oleh

AWAS!! Budaya Tergerus Zaman

-Opini-209 views

Oleh: Dewi Maulizar, SST

Jabatan: Fungsional Statistisi Pertama

Instansi: Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

 

Dewasa ini, kita telah mendapati transisi atau pun perubahan peradaban masyarakat yang semakin lama semakin maju dan global. Muculnya beragam teknologi seperti gadget canggih, tayangan televisi yang sangat bervariasi serta beragam akun media sosial dan hal-hal lainnya, telah menjadi bukti bahwa adanya pola perubahan peradaban masyarakat yang semakin modern. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi lingkup teknologi saja, tetapi juga merambah pada segala aspek kehidupan termasuk budaya. Efek perubahan peradaban tesebut pun bisa mengarah ke hal yang positif dan bisa juga mengarah ke hal negatif, tergantung bagaimana cara penerimaannya.

Bukan hal yang jarang lagi, efek dari modernisasi dan globalisasi yang tidak disaring dengan baik bisa membawa dampak negatif bagi eksistensi sosial budaya masyarakat, ancamannya adalah budaya yang terancam punah. Di era ini apa lagi di kota-kota besar, banyak budaya atau kearifan lokal yang sudah mulai di tinggalkan oleh masyarakat, bisa jadi karena masyarakatnya sendiri yang menganggap budaya itu adalah hal terlalu ribet, bertele-tele, atau tidak menarik, atau bisa jadi masyarakat sudah lupa dengan keberadaan budaya masa lalu akibat kurangnya media pengingat sejarah budaya di lingkungan daerah setempat. Hal ini memang sudah terjadi di setiap kelompok umur masyarakat terutama generasi muda.

Kita tahu, seluruh wilayah di dunia yang memiliki akses bebas kemana saja, pasti merasakan perubahan gaya hidup dan budaya tanpa terkecuali, termasuk kota kecil Kaimana yang berada di Selatan pulau Papua ini. Kita tidak boleh menutup mata bahwa kita sudah mulai mendapati generasi muda Kaimana yang lebih tertarik dengan dengan hal-hal yang berbau modern, bahkan terkadang cenderung latah dengan perubahan yang ada tanpa mencari tahu terlebih dahulu baik buruknya untuk diri sendiri. Acara-acara konser yang berbau modern lebih banyak diminati, sedangkan acara yang bersifat kebudayaan terkesan membosankan dan sedikit sekali peminatnya.

Selain itu, dari hasil survei secara mandiri ke beberapa sekolah SMA dan sederajat di Kaimana, dengan sasaran surveinya adalah masyarakat asli Papua yang mana pertanyaan surveinya adalah “Sebutkan jumlah suku dan nama-nama suku yang ada di Kaimana?”. Adapun jawaban dari pertanyaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara deskriptif dari 5 orang pelajar yang ditanyakan di setiap sekolah, mereka hanya bisa menjawab dua atau tiga suku saja beserta nama-nama sukunya, selain itu mereka tidak tahu. Padahal suku di Kaimana ada 8 beserta nama-nama suku nya. Isu ini seharunya menjadi hal yang mengkhawatirkan, melihat perubahan peradaban tersebut malah menggerus budaya kita.

Lantas apakah ini kesalahan dari pihak-pihak yang menyelenggarakan even yang berbau modern tersebut?. Belum tentu, melihat hal tersebut kita tidak boleh langsung mengkambing hitamkan pihak penyelenggara, kenapa?. Mungkin kita pernah dengar teori keseimbangan ekonomi, pada teori tersebut dijelaskan bahwa supply (penawaran) ada karena demand (pemintaan) ada, begitu pula dengan pembuat even tersebut, apalagi yang hanya mencari keuntungannya saja. Pasti mereka akan membaca minat masyarakatnya lebih dominan kemana. Jika terus dibiarkan, bisa jadi generasi muda kita akan terus terbuai oleh modernisasi dan tidak lagi bisa meneruskan budaya yang ada ke anak cucunya di masa yang akan datang.

Oleh sebab itu, pemerintah dan tetua masyarakat harus bisa memberi perhatian khusus untuk menyaring mana yang boleh diadaptasikan mana yang tidak boleh diadaptasikan oleh daerah masing-masing. Selain itu, mulai memperketat dalam menerapkan kebijakan dalam hal budaya. Contohnya semisal mengadakan perlombaan menyanyi lagu daerah Bahasa Papua di mix dengan lagu modern dan mengadakan perlombaan tari daerah yang di dalamnya bisa mix dengan tari modern agar menarik para muda-mudi Kaimana, membangun museum peninggalan atau galeri untuk barang-barang bersejarah, dan masih banyak hal lain lagi yang bisa dilakukan agar budaya kita tetap terjaga. Semoga

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru